Persiapan Audit Laboratorium Rabies, Balai Veteriner Bukittinggi Gelar Rapat Koordinasi Intensif

Bukittinggi, 10 Februari 2026 — Balai Veteriner Bukittinggi selaku Laboratorium Rujukan Rabies Nasional terus mematangkan persiapan menghadapi audit laboratorium rabies dalam rangka Planned Technical Rabies Laboratory Assessment Mission yang dijadwalkan berlangsung pada 14–18 Februari 2026.
Asesmen teknis ini merupakan bagian dari upaya penguatan kapasitas laboratorium rabies di Indonesia sekaligus dukungan terhadap Program Pengendalian Rabies Nasional. Kegiatan akan dilakukan oleh tim ahli dari World Organisation for Animal Health (WOAH) bersama WOAH International Reference Laboratory for Rabies dari Inggris.
Sebagai langkah awal, BV Bukittinggi melalui tim Medik Veteriner menggelar rapat koordinasi intensif pada Selasa (10/2) di Aula Balai Veteriner Bukittinggi. Rapat dihadiri jajaran fungsional Medik Veteriner dan difokuskan pada pemantapan kesiapan teknis serta administratif laboratorium menjelang audit.
Sejumlah aspek strategis dibahas, antara lain kelengkapan dokumen dan Standar Operasional Prosedur (SOP), penerapan sistem manajemen mutu laboratorium, validasi dan pemeliharaan peralatan, penerapan biosafety dan biosecurity, serta manajemen sampel mulai dari penerimaan, pengujian, hingga pengelolaan limbah medis.
Audit dan asesmen teknis ini bertujuan menilai kapasitas diagnostik rabies, keterkaitan surveilans lapangan dengan sistem pelaporan nasional, serta kesesuaian tata kelola laboratorium dengan standar internasional WOAH. Hasil asesmen diharapkan menghasilkan analisis kesenjangan (gap analysis) dan rencana implementasi yang realistis untuk peningkatan kapasitas laboratorium ke depan.
Pelaksanaan asesmen akan mencakup penilaian menyeluruh terhadap alur kerja laboratorium, metode diagnostik rabies, sistem manajemen mutu, serta kompetensi sumber daya manusia. Melalui persiapan yang matang, BV Bukittinggi optimistis dapat memperkuat peran strategisnya dalam pengendalian rabies dan berkontribusi pada komitmen Indonesia menuju eliminasi rabies nasional, ASEAN, dan target global “Zero by 30.