Tren Tingkat Kontaminasi Virus AI Avian Influenza di Beberapa Pasar Tradisional Kota Padang Tahun 2020 Sampai 2023

Mardeliza1, Mutia Rahmah2, Sovia Heriyani3

 

Pasar yang menjual unggas hidup berpotensi sebagai sumber penularan penyakit AI karena bermacam-macam jenis unggas yang ada di pasar kemungkinan bisa menjadi tempat yang ideal untuk terjadinya reassortment genom virus dan transfer virus antar spesies. Risiko semakin tinggi karena hampir di semua pasar pelaksanaan biorisk masih sangat kurang. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menemukan kasus penyakit Avian Influenza (Risk Based Surveillance), untuk mendeteksi awal dari munculnya virus Influenza baru, dan untuk mengetahui tingkat kontaminasi virus AI di pasar–pasar tradisional wilayah Kota Padang. Pengambilan sampel dilakukan di 12 pasar unggas hidup di Kota Padang. Pengambilan sampel dilakukan dari tahun 2020 sampai 2023. Sampel berupa swab trakea/kloaka unggas dan swab lingkungan. Metode uji yang digunakan adalah RT-PCR dan Inokulasi Telur Tertunas (ITET) yang dilakukan secara paralel, jika hasil uji positif virus AI maka dilanjutkan pengujiannya dengan RT-PCR untuk mengetahui subtipe H9, H5 dan HxNx. Hasil surveilans tahun 2020 menunjukkan tingkat kontaminasi virus AI tipe A adalah sebesar 71% yang terdiri dari virus AI subtipe H5 1,7%, subtipe H9 94,8 % dan subtipe lainnya (HxNx) 3,5 %. Tahun 2021 pengujian hanya dilakukan untuk deteksi virus AI tipe A saja sedangkan untuk uji lanjutan seperti H9, H5 dan HxNX tidak dilakukan. Hasil uji positif virus AI tipe A tahun 2021 adalah sebesar 53,7%, sedangkan tahun 2022 adalah sebesar 67,2 %. Tahun 2022, virus AI tipe A terdiri dari virus AI subtipe H9 62,4 % dan subtipe lainnya (HxNx) 37,6%. Persentase tingkat kontaminasi virus AI tipe A pada tahun 2023 adalah sebesar 55,6 % yang terdiri dari subtipe H9 31,5% dan subtipe lainnya (HxNx) 68,5 %. Sebagian besar unggas yang dijual di Kota Padang berasal Kota Padang dan kabupaten/kota produsen unggas di sekitarnya, sehingga perlu ditingkatkan pengawasan lalu lintas unggas supaya virus AI tidak masuk dan menyebar di Kota Padang. Di samping itu, untuk mencegah terjadinya outbreak perlu penanganan virus AI di peternakan asal unggas tersebut. Selanjutnya lakukan penyuluhan pada pedagang unggas di pasar tentang bahaya penyakit AI, cara meminimalkan kemungkinan penyebaran penyakit AI di pasar dengan meningkatkan pelaksanaan biorisk dan kesadaran praktek kebersihan diri yang lebih baik.

Sampel diambil di beberapa pasar tradisional di wilayah Kota Padang. Pengambilan sampel di pasar-pasar tersebut dilakukan dari tahun 2020 sampai 2023. Pengambilan sampel dilakukan satu sampai tiga kali setahun, disesuaikan dengan kondisi dan anggaran yang tersedia. Jumlah sampel yang berhasil diambil dapat dilihat pada Gambar 1. Pasar yang menjual unggas hidup berpotensi sebagai sumber penularan penyakit AI karena bermacam-macam jenis unggas yang ada di pasar kemungkinan bisa menjadi tempat yang ideal untuk terjadinya reassortment genom virus dan transfer virus antar spesies. Risiko semakin tinggi karena hampir di semua pasar pelaksanaan biorisk masih sangat kurang. Adanya sirkulasi virus AI subtipe H5 dan H9 di waktu dan tempat yang sama kemungkinan berisiko munculnya wabah baru yang bersifat zoonosis.

Virus H9N2 bersifat low phatogenik tetapi diduga virus ini menyumbangkan segmen gen yang bisa menyebabkan virus menjadi sangat zoonosis. Sejak tahun 2013, reassorment antara gen G57 dari virus H9N2 dan subtipe lain yang bersirkulasi menghasilkan beberapa AIV yang bersifat zoonosis dengan kecendrungan tinggi untuk menyebabkan kematian pada manusia. Pada awalnya, pengambilan sampel dilakukan hanya sekali setahun karena keterbatasan anggaran, tetapi pada tahun berikutnya direncanakan pengambilan sampel 3 kali setahun, sehingga dapat dilihat perbedaan jumlah sampel yang signifikan (Gambar 1). Pengujian AI tahun 2020-2023 dilakukan secara paralel yaitu identifikasi virus dengan metode uji PCR dan ITET.

Tingkat kontaminasi virus AI di pasar-pasar tradisional yang terdapat di wilayah Kota Padang cukup tinggi. Hal ini dapat diketahui dari hasil pengujian deteksi virus AI periode tahun 2020 sampai 2023, terindentifikasi virus AI tipe A dengan persentase di atas 50 % dari jumlah sampel yang diuji. Tingkat kontaminasi virus AI tipe A tahun 2020 sebesar 71%, tahun 2021 sebesar 53,7%, tahun 2022 sebesar 67,2%, dan tahun 2023 sebesar 55,6 %. Di samping itu, masih teridentifikasi virus AI subtipe H5 walaupun sampel diambil dari unggas yang secara klinis sehat. Hal ini perlu penelusuran lebih lanjut ke daerah atau perternakan asal unggas, apakah di pertenakan tersebut sebelumnya terjadi wabah dan hewan positif AI tersebut masih di tahap awal infeksi sehingga belum terlihat gejala klinis. Pada tahun 2020 persentase sampel positif virus AI tipe A adalah 71% yang terdiri dari subtipe H5 1,7%, subtipe H9 sebesar 94,8 % dan subtipe lainnya (HxNx) 3,5 % . Pada tahun 2021 pengujian hanya dilakukan untuk deteksi virus AI tipe A saja sedangkan untuk uji lanjutan seperti H9, H5 dan HxNX tidak dilakukan. Hasil uji positif virus AI tipe A tahun 2021 adalah sebesar 53,7%, sedangkan tahun 2022 adalah sebesar 67,2 %. Tahun 2022 subtipe AI terdiri dari subtipe H9 62,4 % dan subtype lainnya (HxNx) 37,6%. Pada tahun 2022 dan 2023 tidak ditemukan sampel positif AI dengan subtipe H5. Pada Tahun 2023 sampel yang positif virus AI tipe A adalah sebanyak 346 sampel atau sekitar 31,5% yang terdiri dari subtipe H9 31,5% dan subtipe lainnya (HxNx) 68,5 %. Ditemukannya virus AI subtipe H9 dan HxNx di lapangan perlu menjadi perhatian dan kewaspadaan karena dikhawatirkan virus Avian Influenza subtipe H9 dan HxNx dapat mengalami reassortment dengan subtipe lain sehingga menjadi peluang menghasilkan subtipe baru yang zoonosis dan berakibat fatal seperti virus H7N9 atau subtipe lainnya.

Virus AI subtipe H9 tersebar luas pada banyak spesies unggas air liar dan burung pantai di seluruh dunia. Menurut literatur,wabah yang disebabkan oleh subtipe H9 merupakan wabah LPAI. Virus Avian Influenza subtipe H9 bersifat enzootic di Asia, Timur Tengah, sebagian Afrika Utara dan Tengah. Virus ini menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan pada industri unggas. Ada 9 virus subtipe H9 yang pernah dilaporkan, yaitu H9N1, H9N2, H9N3, H9N4, H9N5, H9N7, H9N8, dan H9N9. Perlu pengujian lebih lanjut untuk mengetahui subtipe virus AI yang lebih spesifik berdasarkan kelompok proteinnya atau berdasarkan cladenya yang teridentifikasi di pasar-pasar tradisional wilayah Kota Padang sehingga tindakan pencegahan dan pengendalian AI dapat lebih tepat dan efektif.

Virus H9N2 secara sporadis dilaporkan menyebabkan gangguan pernafasan ringan pada manusia, walaupun pada beberapa infeksi menyebabkan kematian. Selain H9, HxNx juga perlu diwaspadai karena keberadaannya yang meningkat setiap tahun karena bisa saja HxNx tersebut termasuk subtipe yang berpotensi HPAI dan zoonosis. Di samping subtipe di atas, OFFLU juga melaporkan, subtipe H7N6 pada tahun 2023 menyebabkan penyakit yang parah pada unggas di Afrika Selatan. Selain itu, kekhawatiran saat ini juga terhadap penyebaran global virus HPAI clade 2.3.4.4b gsGD.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan saat pengambilan sampel, unggas hidup yang diperjualbelikan di pasar–pasar tradisional Kota Padang berasal dari peternakan di Kota Padang dan kabupaten/kota sekitar penghasil unggas di Provinsi Sumbar, baik peternakan rakyat maupun komersil. Selain dari Kota Padang dan sekitarnya, unggas yang diperjual belikan di pasar-pasar tersebut juga berasal daerah penghasil unggas di Provinsi tetangga seperti dari Provinsi Riau dan Jambi. Kemungkinan virus AI berasal dari daerah-daerah tersebut karena daerah asal masih merupakan daerah endemis AI.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk memperkecil resiko terjadinya penularan virus AI ke manusia di pasar yaitu dengan meningkatkan pengetahuan pedagang dan konsumen dalam menerapkan praktek kebersihan yang baik serta meningkatkan kesadaran pedagang dalam pelaksanaan biosekuriti. Selain itu perlu ditelusuri dan dilakukan pencegahan kemungkinan terjadinya wabah di peternakan asal unggas tersebut. Perlu dibuatkan aturan yang mengikat peternak untuk tidak menjual ternak yang terpapar virus AI ke pasaran. Salah satunya dengan mempersyaratkan kompartemen bebas AI.

Virus AI ditemukannya di pasar kemungkinan besar berasal dari peternakan asal unggas tersebut. Perlu ditingkatkan kewaspadaan dengan masih ditemukannya virus AI tipe A, subtipe H5, H9 dan Hx di pasar. Selain itu sejak tahun 2020, varian virus yang termasuk dalam H5 clade 2.3.4.4b menyebabkan kematian burung dan unggas liar dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya di banyak negara di Afrika, Asia, dan Eropa. Pada tahun 2021, virus ini menyebar ke Amerika Utara dan pada tahun 2022, menyebar ke Amerika Tengah dan Selatan. Pada tahun 2022, sebanyak 67 negara di lima benua melaporkan kepada WOAH wabah flu burung dengan patogenisitas tinggi H5N1 pada unggas dan burung liar dengan lebih dari 131 juta unggas peliharaan hilang karena mati atau dimusnahkan di peternakan dan desa yang terkena dampak. Pada tahun 2023, sebanyak 14 negara lainnya melaporkan wabah ini, terutama di Benua Amerika, seiring dengan penyebaran penyakit ini. Beberapa kejadian kematian massal telah dilaporkan pada burung liar yang disebabkan oleh virus Influenza A (H5N1) clade 2.3.4.4b. Tahun 2024 terjadi kasus pada kambing dan sapi perah di USA serta adanya laporan kasus kematian kucing di peternakan tersebut. Untuk mengendalikan hal ini, organisasi pangan dunia (FAO), organisasi kesehatan dunia (WHO), dan organisasi kesehatan hewan dunia (WOAH) mendesak negara-negara untuk bekerja sama lintas sektor untuk menyelamatkan sebanyak mungkin hewan dan melindungi manusia, dengan mengambil tindakan sebagai berikut:

Mencegah flu burung dari sumbernya terutama melalui peningkatan langkah-langkah biosekuriti di peternakan dan rantai nilai unggas serta menerapkan praktik kebersihan yang baik. Anggota WOAH melalui konsultasi dengan sektor perunggasan dapat mempertimbangkan vaksinasi unggas sebagai alat pengendalian penyakit pelengkap berdasarkan pengawasan yang baik dan mempertimbangkan faktor-faktor lokal seperti jenis virus yang beredar, penilaian risiko dan kondisi pelaksanaan vaksinasi.

Mendeteksi, melaporkan, dan menanggapi wabah hewan dengan cepat sebagai garis pertahanan pertama. Ketika infeksi terdeteksi pada hewan, negara-negara didorong untuk menerapkan strategi pengendalian seperti yang dijelaskan dalam standar WOAH.

Memperkuat surveilans Influenza pada hewan dan manusia. Untuk memungkinkan respon dini, surveilans berbasis risiko pada hewan harus ditingkatkan sebelum dan selama periode risiko tinggi. Kasus hewan yang terkena AI harus dilaporkan ke WOAH secara tepat waktu. Pengurutan genetik harus dilakukan secara berkala untuk mendeteksi adanya perubahan pada virus yang sudah ada di suatu area atau masuknya virus baru. Pada manusia, hal-hal berikut harus diprioritaskan: (i) surveilans terhadap infeksi saluran pernapasan akut yang parah dan penyakit mirip Influenza, (ii) peninjauan secara cermat terhadap pola epidemiologi yang tidak biasa, (iii) pelaporan infeksi pada manusia berdasarkan peraturan kesehatan Internasional, dan (iv) berbagi virus Influenza dengan pusat referensi dan penelitian Influenza yang berkolaborasi dengan WHO Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS). 

Melakukan penyelidikan epidemiologi dan virologi seputar wabah hewan dan infeksi pada manusia. Pengawasan harus ditingkatkan untuk mendeteksi dan menyelidiki lebih lanjut dugaan kasus pada hewan dan manusia. 

Bagikan data sekuen genetik virus dari manusia, hewan, atau lingkungannya ke dalam database yang dapat diakses publik dengan cepat, bahkan sebelum dipublikasikan.

Mendorong kolaborasi antara sektor kesehatan hewan dan manusia, terutama di bidang pertukaran informasi, penilaian dan respons risiko bersama. 

Mengkomunikasikan risikonya, memperingatkan dan melatih petugas layanan kesehatan dan orang-orang yang terpapar di tempat kerja tentang cara-cara melindungi diri mereka sendiri. Masyarakat umum serta pekerja hewan disarankan untuk menghindari kontak dengan hewan yang sakit dan mati serta melaporkan hal ini kepada otoritas kesehatan hewan. Mereka juga disarankan untuk mencari perawatan medis jika merasa tidak sehat dan melaporkan paparan apa pun terhadap hewan kepada penyedia layanan kesehatan mereka.

Memastikan kesiapsiagaan pandemi Influenza di semua tingkatan.

Semua langkah di atas tidak akan terlaksana jika tidak ada komitmen yang kuat dari pihak-pihak terkait